CARI

Showing posts with label FIKSI. Show all posts
Showing posts with label FIKSI. Show all posts

14 March 2015

Tujuan Hidup

Jika ada orang bertanya, "apa tujuan hidupmu?" mungkin aku adalah orang pertama yang akan mengancungkan jari telunjuk ke atas dan menjawab, "aku tidak tahu."

Dengan begitu orang-orang akan menyebutku sebagai orang tua yang tidak berguna.

Aku mencoba mendengarkan berbagai saran dan meniru apa yang telah mereka lakukan, dengan harapan, siapa tahu aku juga menemukan tujuan hidup.

Ketika bangun tidur aku berjalan ke air pancuran, memohon kepada Tuhan, ya Tuhan berikanlah kepadaku tujuan hidup. Lalu aku berjalan ke ruang depan, membaca koran sambil menghirup aroma kopi hitam, mencari tujuan hidup. Aku membuka jendela melihat beberapa orang berbincang senang tentang sepatu yang mereka kenakan, jika kesenangan tentang sepatu adalah tujuan hidup, aku membelinya satu.

Waktu terus saja bergulir, tetapi Tuhan belum juga menjawab permohonanku, koran dan kopi hitam tidak banyak membantu, sepatu yang mereka kenakan tidak cocok untukku. 

Aku tidak ingin disebut sebagai orang tua yang tidak berguna.

Maka pintu rumah kubuka lebar. Di sana aku melihat berbagai macam pemandangan. Ada pengemis sedang merengek sekaleng beras sambil membaca mantra, "Tuhan menyertaimu," katanya. Tukang koran langganan akhirnya bisa membeli sebuah sepeda untuk menjajakan koran sambil berjualan kopi hitam. Ada kucing berlari ke dalam rumah karena terluka kakinya, terinjak sepatu entah siapa, wajahnya melas minta diberi makan, "meooong," lalu dia bersetia mengikutiku ke mana-mana.

Aku semakin tua, aku menjadi lupa apa itu tujuan hidup.

23 January 2015

Ayam atau Telur?

 image from http://mycoachwendy.com.au/

"So, menurutlu mana yang lebih dulu muncul, ayam atau telur?"

Alkisah di tengah kemacetan kota Jakarta yang sedang diguyur hujan, dua orang pemuda mahasiswa tingkat akhir bercakap-cakap untuk mengusir kebosanan di dalam mobil sedan milik salah satu dari mereka.

Air menggenang di mana-mana, aspal basah, beton berlubang, klakson kendaraan beroda dua maupun empat berteriak dari empat penjuru mata angin. Di antara keruwetan panjang kemacetan, banyak orang kemudian menjadi mati bosan. Solusinya adalah memaki, menyanyi, mendengarkan radio, kalau beruntung ada teman seperjalanan, ya mengobrol.

Obrolannya Mahasiswa tingkat akhir pastilah maha kerennya. Persoalan skripsi, politik, sampai asteroid adalah makanan utama mereka, bagi yang hobi. Yang tidak hobi ya paling hanya keluar masuk perpustakaan untuk mempertebal halaman buku skripsi mereka, sisanya dipakai untuk tidur.


Tidak habis-habisnya dua pemuda di dalam mobil sedan tadi membahas tentang ayam dan telur. Mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur? Kalau ayam yang pertama kali diciptakan, pastilah ia keluar dari telur. Tebak-tebakan ilmiah tidak boleh dijawab asal saja seperti, "ayam pastilah sudah ada dari sananya." Tetapi sungguh dilema besar jika ternyata telur yang lebih dulu ada, siapa yang mengeraminya?

"Mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur?" Obrolan kedua pemuda tersebut menjadi panjang menuju perdebatan.

Sementara di ujung gang, agak jauh dari jalan raya, Abang tukang bubur sedang membereskan seluruh peralatannya. Dia akan kembali pulang karena menjelang malam tempat jualannya digantikan oleh abang tukang nasi goreng. Laku tidak laku, jam kerjanya dibatasi sejak pagi sampai sore hari. Sudah kesepakatan bersama sejak awal. Begitulah cara mereka, Abang tukang bubur dan Abang tukang nasi goreng, membagi rezeki agar tidak ada cekcok soal berebut pelanggan.

Setelah lepas dari jejeran macet yang panjang, akhirnya dua pemuda di dalam Sedan bisa menghela napas. Si penanya yang sedang memegang kemudi cepat-cepat membelokkan mobil masuk ke dalam gang yang menghubungkan kampus mereka. Cepat-cepat dijalankannya mobil agar tidak terlambat bertemu dosen pembimbing yang jadwal bertemunya agak ajaib—ada ketika tidak butuh tetapi susah betul dicari ketika mendesak.

Klakson panjang kembali terdengar di dalam gang, tertuju kepada tukang bubur yang agak santai mendorong gerobak jualannya. Rupanya pengemudi mobil sedan tidak sabar betul dengan gerak lambat tukang bubur. Klakson ditekan berulang kali. Pengemudi mobil berharap setidaknya pendorong gerobak mau menyingkir sedikit saja untuk melegakan jalan, tidak peduli siapa sebenarnya yang lebih dulu ada di sana.

Banyak lubang di pinggiran jalan.

"Eeee... wong sugih ora ono utek! Sak enake nyerobot jalan. Asu! Jancok!" Maki penjual bubur dengan pakaian yang sudah penuh cipratan lumpur.

Jadi mana yang lebih dulu muncul, ayam atau telur?

12 October 2014

Tidur atau Selamanya Kamu akan Sendirian

Suatu waktu seorang kawan bertanya kepada saya, mengapa saya sangat suka tidur? Kemudian saya ingin menjawab, tetapi setelah berpikir singkat jawaban itu saya tahan di kerongkongan. Saya sedikit tidak rela kalau-kalau dia pada akhirnya mengetahui dan mendapat wawasan dari alasan-alasan yang akan saya kemukakan nanti—mengapa saya sangat suka tidur?

Sebagian orang yang tidak gemar cerita dongeng pasti tidak tahu (atau tidak mau tahu) kalau putri-putri di dalam cerita dongeng akan me/di-temukan oleh seorang pangeran tampan yang kemudian akan memperistrinya di akhir cerita, saat dia bangun tidur. Sebagian orang yang membaca sedikit cerita dongeng pasti mengira kalau putri-putri dalam cerita itu memang pantas mendapatkan seorang pangeran dengan alasan: putri-putri itu adalah anak raja atau dari keluarga terpandang, pantaslah mereka mendapatkan seorang pangeran. Atau Pangeran yang memperistrinya adalah buah dari kebaikan yang telah dia lakukan. Atau Pria tampan nan baik hati itu adalah hadiah atas petualangannya mengalahkan nenek sihir jahat. Dan atau-atau lainnya.

Padahal Putri-putri dalam dongeng itu hanya melakukan kegiatan sepele, tidur, lalu dia menemukan pasangan hidup.

Sebagai buktinya, sebut saja Putri Salju. Dia tertidur karena lelah oleh kelakuan-kelakuan jahat ibu tirinya. Setelah memakan sepotong apel beracun yang diberikan oleh ibu tirinya, putri salju memutuskan untuk tidur saja agar tidak mendapatkan gangguan lagi. Pada akhir cerita, Putri Salju terbangun oleh ciuman pangeran yang kurang sopan.

Sleeping Beauty juga begitu. Sudah sleeping terus kerjanya masih saja dipanggil beauty. Nasibnya lebih sial dari putri salju, Sleeping Beauty tertidur karena dikutuk. Ketika jarinya terantuk jarum maka kutukan itu akan berlaku, kecuali ada cinta sejati yang membangunkannya. Sleeping Beauty dibangunkan oleh pangeran yang tergila-gila akan paras dan rupanya, dan tidak sabar ingin menikahinya.

Dan juga kawannya, Cinderella. Setelah menghadiri pesta dansa dengan sembunyi-sembunyi, Cinderella berharap akan bertemu lagi dengan anak raja yang tampan. Cinderella meninggalkan sebelah sepatunya karena pulang terburu-buru sebelum jam dua belas malam habis, atau sodara tirinya bakalan tahu dia tidak ada di tempat saat itu. Cinderella kembali ke kamarnya yang reyot tepat waktu, memasrahkan kehidupannya untuk esok hari, dan tertidur. Keesokan paginya, pangeran yang penasaran pada wanita yang hanya mau berdansa dengannya dalam waktu singkat mencari pemilik sepatu itu.

Lain lagi dengan Si Little Mermaid, dia tidak mendapatkan pangeran pujaan hatinya karena dia tidak tidur. Melainkan melihat sang pangeran tidur dengan putri lain. Akhirnya jasadnya melebur di lautan menjadi ikan-ikan kecil.

Kebalikan dengan si Little Mermaid, putri penyayang binatang selalu membawa tidur binatang-binatang kecil yang dia temukan. Putri itu tidur bersama katak aneh yang dia temukan di hutan. Melihat ketulusan hati si putri terhadap binatang, alam dan sesamanya, pangeran yang menyamar katak itu akhirnya jatuh cinta. Sudah kepalang tanggung juga, mereka sudah tidur bersama, begitu pikir si pangeran yang pintar menyamar.

Itu baru lima kisah dongeng, ada lagi beberapa cerita yang membuat saya berkeyakinan tidur adalah kunci utama kebahagiaan seorang putri. Tetapi saya tidak ingin terlihat sok tahu dan mengada-ada jika melanjutkannya. Lagipula, Dia, kawan yang bertanya itu kan bukan seorang putri.

04 September 2014

Panggil Airi Saja

Pertunjukan malam ini berakhir lebih lama. Biasanya tepat pukul sepuluh atau pukul sepuluh lewat lima tirai hitam panjang sudah mulai disibakkan, panggung kembali terang, dan lampu-lampu dinyalakan, pertanda pertunjukkan di teater kecil ini sudah selesai. Pukul sepuluh adalah waktu yang tidak terlalu suram jika aku harus pulang sendirian dengan angkutan umum. Sekarang sudah pukul sepuluh lewat lima belas. “Terima kasih, semua! Ini lagu terakhir yang kami mainkan.” vokalis band baru saja berkata demikian.

Sepuluh lewat tiga puluh akhirnya penonton keluar berbondong-bondong melalui satu-satunya pintu kecil bertuliskan exit di sudut kanan seberang panggung. Karena terlalu ngeri pulang sendiri, kuputuskan akan pulang dengan taxi. Ah… Momen ini tidak terencana, harusnya taxi bisa langsung kudapat tanpa menunggu. Kalau saja tadi sore aku sudah memesan taksi di loket tiket yang disediakan panitia.

Dan di sinilah aku sekarang: duduk menunggu taxi kosong yang mungkin lewat sambil menatap iri penonton lain yang sudah lebih dulu pulang dengan taxi atau dengan kendaraan pribadi. Kendaraan terakhir keluar menuju gerbang, taxi putih yang sedang menunggu penumpangnya. Ternyata penumpangnya adalah nenek. Nenek yang pada pertunjukan tadi duduk di barisan paling depan menghadap tepat ke panggung. Kupikir dia adalah salah satu panitia atau orang teater ini, pada setiap pertunjukan yang sudah kutonton pasti ada dia. Dan akan segera kuketahui bahwa nenek tua yang agak gempal ini hanya salah satu penonton setia pertunjukan teater. Teater yang kebetulan dekat dengan kantorku.

Nenek itu berjalan dengan tongkat bantu, kaki sebelah kanannya sudah tidak bisa ditapakkan. Nenek tua dengan cepol rambut dan pakaian sederhana yang selalu mengepal sapu tangan biru dongker, untuk sesekali dia usapkan di bawah matanya.

“Saya mau pulang ke Depok. Ayo! Yang mau numpang dengan saya boleh turun di mana saja.” Si nenek yang untuk tersenyum saja sepertinya perlu mengeluarkan banyak tenaga menawari taxinya untuk ditumpangi kepadaku dan kepada orang-orang yang nasibnya kira-kira sama sepertiku – menunggu di depan gerbang di samping pos satpam. Aku tahu diri, tidak mungkin aku menumpang sampai ke Kemang kemudian dia harus memutar taxinya kembali ke arah Depok. Singkatnya tidak ada yang menumpang taxinya, orang-orang yang bernasib sama sepertiku memilih jalan pulangnya sendiri. Dengan senyum ramah dan sopan kutolak tawaran nenek tua itu.

***

Setelah kelahiran cucu pertamanya, Yily tidak lagi bersusah payah mencari alasan mengunjungi kediaman anaknya. Yily dan Nana bukan ibu dan anak yang hangat. Yily terbiasa melakukan segalanya sendiri. Yily adalah Ibu rumah tangga yang sibuk dengan karirnya, jarang menggendong anaknya apalagi sekedar mengajak bicara lucu khas ibu-ibu kepada balitanya. Sedang Nana, wanita pendiam dengan miskin ekspresi. Keduanya tidak tahu bagaimana caranya memeluk satu sama lain. Yily dan Nana tumbuh menjadi Ibu dan anak dengan kecanggunangan masing-masing. Setelah Nana menikah, meninggalkan rumah ibunya, dan melahirkan anak wanita yang manis, keadaan Yily dan Nana mulai menghangat. Yily sudah tidak lagi bekerja, dan Nana tentu saja membutuhkan orang terdekat untuk mengasuh anaknya.

Jika Nana dan suaminya tidak bisa menjemput atau menemani Airi ke sana ke mari, maka Yily dengan senang hati menjemput dan menemani cucu kesayangannya. Ke sekolah, ke tempat les tarinya, ke rumah teman belajarnya, Yily dengan setia—seperti tidak ada pekerjaan lain yang lebih utama daripada bertemu dengan cucunya—menemani Airi ke mana-mana.

Airi terlahir sempurna. Gadis manis dengan kedua lesung yang menghiasi pipi ketika tersenyum, sangat ceria, persis ayahnya. Airi menggemari tari, terlebih lagi ballet.

“Ninik… Liat tutu baruku! Cantik, ya?” pamernya sambil menyodorkan kotak sepatu baru berisi tutu berwarna merah jambu dengan tali-tali cantiknya yang berjuntaian. Dan kemudian Yily akan membantu Airi menggunakan tutu barunya dan menyuruhnya memeragakan gerakan balet yang didepajari kemarin hari di sanggar.


Sore itu adalah latihan gladi bersih terakhir pertunjukan bertajuk “Ballet for Kids” yang akan tayang dua minggu lagi di teater kecil di samping sanggar Airi. Untuk pertama kalinya Airi turut tampil diatas panggung, oleh karena itu ayahnya menghadiahkan Airi tutu istimewa kemarin. Hari belum jam lima, gladi bersih itu berakhir lebih cepat daripada jadwal biasa Airi latihan ballet. Yily masih di Rumah Sakit pada pukul itu, memeriksakan kakinya yang sering nyeri kambuh-kambuhan. Sedang kedua orang tua Airi masih di kantor pada pukul empat. Airi menunggu dengan tabah Ninik yang akan menjemputnya di depan pintu gerbang komplek teater. Angin tiba-tiba bergerak kencang, awan berubah menghitam menandakan akan hujan. Jakarta rata diguyur hujan. Jika kamu tinggal di Jakarta, tidak perlu lagi kugambarkan bagaimana kondisi jalan raya ketika hujan pada pukul lima sore.

Sejam berlalu, Airi tidak juga melihat juga sosok neneknya. Sedangkan Yily masih terjebak macet panjang untuk menjemput cucu kesayangan, “semoga Airi sabar menunggu.” Doa Yily di dalam taxi. Tetapi hujan dan jalanan tidak terlihat akan menyurutkan kearoganannya. Yily sampai di tempat tiga jam kemudian.

Airi tidak ada di gerbang atau dimanapun tempat biasa dia menunggu Yily datang. Yang ada hanya kerumunan orang dan Mobil CRV hitam yang dipakirkan di depan pos satpam. Yily menghampiri. Mencoba menjawab pertanyaan, ke mana Airi?

“Ada apa ini?” Tanya Yily dalam hati.

“Awas Buk! hati-hati nyebrangnya, licin. Tadi aja ada anak kecil yang kepeleset jatoh terus ketabrak mobil. Mobil itu, tu!” Tunjuk pria asing kepada mobil CRV yang menepi di depan pos satpam.

Kepala Yily kemudian gelap.

Airi tidak bisa diselamatkan, luka dalamnya terlalu berat untuk usia anak. Tidak hanya kepalanya, sekarang semua pandangan Yily adalah gelap gulita. Cucu satu-satunya yang membawa keceriaan dan warna pada kehidupan ibu dan anak itu telah lenyap. Hidupnya begitu singkat untuk membayar dosa pelukan Yily kepada Nana. Sekarang, apalagi yang tersisa? Pikirnya mungkin ikut mati saja. Airi telah telah tiada.

***

Hari ini pertunjukkan terakhir rupanya, pantas saja teater membludak. Banyak remaja dan hipster gothic datang berkunjung. Aku sih selalu tidak pernah kehabisan kursi. Teater ini masih tetanggaan dengan kantorku. Lupa, ya, sudah kuceritakan sebelumnya?

Kulihat lagi nenek yang tiga hari lalu menawariku taxi sedang mengamati lukisan dan foto-foto besar berukuran 1x1 meter pada koridor taman di samping toilet. Salah satunya adalah foto pertunjukkan balet anak kecil. Aku ingat, aku pernah melihatnya, foto itu berjudul “Ballet for kids 2003”. Harusnya sudah delapan tahun lebih foto itu terpajang, dan sudah delapan menit lebih pula foto itu dipandang oleh nenek-nenek bertongkat pada tangan kanannya.

Sambil merokok di taman, persis di belakang koridor, aku curi perhatian kepada sosok nenek itu, sambil juga mengecek selebaran jadwal yang terpampang. Bintang tamu hari ini adalah Sarasvati and Band dari Bandung. Ah… namanya saja baru kudengar. Tetapi untungnya setiap pertunjukan di teater ini selalu tidak pernah mengecewakan. Band unik apalagi ini?

“Kamu datang sendiri?” Tegur nenek tiba-tiba. Aku terkejut takut kalau-kalau dia merasa sedari tadi aku perhatikan.

“Iya, sendiri Bu. Selalu sendiri kalau ke sini.” Jawabku melengkapi.

“Saya juga selalu sendiri kalau ke sini, menengok cucu.”

Aku mengangguk ramah menimpali perkataannya, walau timbul pertanyaan dalam hati, di mana cucunya?


Layar sudah terpasang, panggung gelap sempurna, dan lampu-lampu sedari tadi memang sudah dipadamkan. Maka tampilah sekarang Sarasvati and Band. Dibuka oleh denting piano yang kelam dan datar ‘ting.. ting.. ting..’ serta suara rekaman anak-anak kecil yang sedang bermain. Sayup-sayup pada suara rekaman itu terdengar suara desahan wanita yang agak horror menurutku. Kemudian rekaman berhenti. Musik diam. Lalu datanglah segerombolan orang dengan jubah hitam dan tudung kepala memenuhi kursi-kursi alat musik pada panggung itu. Lagu pertama dimulai.

Setelah lagu pertama dimulai, MC segera memperkenalkan personil band. Dari perbincangan mereka, kita semua tahu bahwa ternyata sang vokalis memiliki bakat unik, yaitu bisa bercakap-cakap dengan makhluk gaib. Hantu kita menyebutnya. Dan entah mengapa kengerian yang mereka tunjukkan berenergi positif, tidak kelam dan menyeramkan, tidak seseram ketika aku menonton ‘The Conjuring’ sendirian pada jam dua belas malam. Ini adalah pengalaman menonton pertunjukan yang menyenangkan.

Sambil bercakap-cakap kepada penonton sang vokalis berkata, “biasanya teman-teman kecilku akan datang. Mereka senang sekali dengan pertunjukan. Ada yang duduk di sana, ada yang duduk di sebelah sana juga.” tunjuk-tunjuk sang vokalis sembarangan ke tempat teman-teman gaibnya duduk. Lalu penonton akan tertawa-tawa ngeri membayangkan ada mahluk gaib duduk di sebelahnya.

“Tapi ada satu anak favoritku, dia bernama…”

Jelas sekali kudengar nenek yang duduk gelisah sedari tadi menggumamkan sebuah nama.

“Panggil Airi saja. Panggil Airi. Saya mohon… Panggil Airi!“ pintanya lirih-lirih sambil menyapu kedua air mata dengan sapu tangan biru dongker miliknya.

“… Peter” panggil si vokalis dan lagu berikutnya dimainkan.


*cerita ini dan cerita-cerita lainnya yang jauh lebih baik ada dalam buku kumpulan cerpen Antologi Rindu

24 June 2014

Rambut Mallia



Mallia bukan anak yang menyebalkan sehingga semua teman-teman menjauhinya. Mallia adalah gadis istimewa dengan rambut lurus panjang tergerai sampai ke punggung. Mallia tidak pernah menggerutu mengapa hanya rambut dia yang berbeda. "Rambut yang lebat dan tebal adalah hadiah dari Tuhan," katanya meniru ucapan sang Mama. Dia tidak pernah mengeluh walau sekujur telapak tangannya sudah lebam semua dengan garis-garis luka layaknya teriris silet. Rambut Mallia sangat tajam.

Kalau melihatnya dengan sekilas, bentuk rambut Mallia tidak jauh beda dengan rambut orang kebanyakan. Berwarna hitam legam, agak kaku dan nampak bersinar, tetapi ketika diraba—jika tidak hati-hati dan merabanya dengan sangat cepat—maka ia bisa melukai. Seperti lembaran kertas yang baru saja di potong, pinggiran kertas yang tipis itu sangat mungkin mengiris tanganmu, bukan? Begitulah rambut malia.

Karena itu orang tua Mallia tidak pernah memotong rambut anaknya menjadi sangat pendek, takut-takut orang di dekatnya jadi mudah tertusuk oleh ujung rambutnya. Karena itu juga Malia tidak bisa memiliki adik. Mallia tidak lama-lama di dalam perut Ibunya. Sejak kandungan bulan pertama, Ibunya merasakan sesuatu yang geli menggelitik di bawah pusar dan makin lama rasa geli tadi makin menyiksa. Karena itu pulalah, ketika lahir, Ibunya memberi nama Malliá, yang berarti rambut dalam bahasa Yunani.

"Kenapa kamu tidak main di dalam rumah saja? Lebih baik ketimbang cuma menonton yang lain bermain, kan?" lidahnya setajam rambut Mallia, namun hanya Salam dan sedikit sekali teman lain mau dan tidak takut meluangkan waktu lebih banyak untuk bercakap-cakap dengan Mallia.

"Aku sedang bosan. Semoga tidak mengganggumu. Aku sudah agak jauh dari lapangan, kan?" tanya Mallia meyakinkan.

"Ya, jangan dekat-dekat, nanti bolaku bisa terbelah jika kena kepalamu. Duduk-duduk saja di samping pohon itu." tunjuk Salam ke arah bangku kayu panjang di bawah pepohonan.

Mallia duduk tenang di bangku kesenangannya, letak bangku itu agak jauh dari mereka yang sedang berlarian mengejar bola, atau bermain galasing, kadang hompimpa, sehingga mereka menjadi tidak perlu was-was. Jika sedang keluar dan memperhatikan temannya bermain, Mallia sengaja untuk duduk berlama-lama sampai permainan selesai dan semua anak akan pulang ke rumahnya masing-masing. Mallia berharap ada yang mengajaknya untuk pulang bersama, Mallia berharap ada teman yang tidak tega membiarkan dirinya sendirian sampai senja tiba.

"Kamu sudah tanya belum, apa jenis kain untuk bantal tidurmu"

"Sudah. Ibu bilang tidak ada kain spesial yang dia pasang dibantalku, Ibu hanya memakai kain biasa yang dipasang berlapis-lapis agar tidak mudah sobek." begitu jawab Mallia atas pertanyaan yang diajukan oleh Salam ketika mereka di jalan menuju pulang.

"Heeem.. Bagaimana kalau kamu besok ikut aku ke pasar? Aku ingin mencari topi baru, habis itu kita bisa cari alas untuk kepalamu. Siapa tahu ada baja nganggur untuk kepala Iron Woman-mu." Kekeh Salam meledek.

"Kamu baik sekali!" Begitu haru Mallia.

Salam selalu menggerutu jika perkataan Mallia kadang membuatnya malu. "Aku hanya mengajakmu ke pasar. Jangan jadi besar kepala. Ini hal biasa!"

"Aku tidak tahu musti berbuat baik apa untuk membalasmu. Ibu selalu membalas kebaikan tetangga, jika Ibu diberi sedikit makanan maka Ibu akan memberi makanan lain juga."

"Tidak semua kebaikan perlu dibalas, Mallia... Tidak semua orang sama mampunya jika kamu berharap balasan kebaikan yang sama atas kebaikan yang sudah kamu berikan untuk orang lain. Lagipula aku tidak merasa mengajakmu ke pasar adalah sebuah kebaikan atau hutang yang perlu dibayar."

Sesampainya di pasar, Mallia senang melihat topi berjejeran beraneka warna dan bentuk, walau dalam hati dia berandai-andai jika ada topi yang tidak cepat rusak dia kenakan. Bapak tukang topi menyodorkan Mallia topi wol, bentuknya tidak seperti topi, lebih mirip bando yang menutupi setengah kepala. "Terima kasih, Pak. Tapi aku tidak bisa memakai topi. Topi bapak bisa rusak jika tergesek rambutku yang sedikit tajam ini."

"Ini bahannya wol, kamu tenang saja! Oh, tunggu.. Aku punya topi wol kualitas super, mahal memang tapi kuberi saja untukmu. Tidak ada yang mau membelinya apalagi menawar karena harganya ini!" Tunjuk Si Bapak penjual topi ke arah atas, tempat banyak topi rajut wol dipajang. Sudah banyak debunya.

Topi rajut berbahan wol itu bertahan cukup lama di kepala Mallia. Serat wol yang baik sangat tahan terhadap gesekan dan semakin rumit pilinan rajut maka semakin dia tidak mudah sobek. Mallia jadi mahir membuat rajutan. Dia sering membeli bahan apa saja ke pasar untuk dia rajut menjadi tutup kepala, bando, topi. Tidak hanya perhiasan rambut, Mallia juga belajar caranya membuat sovenir dari benang wol, alas bantal tidur, baju musim dingin, dan banyak pernak-pernik lain. Mallia bahkan mendatangi pabrik wol bulu domba asli agar mendapat kualitas bahan yang baik dengan harga yang murah. Sekarang Mallia terkenal bukan lagi karena rambutnya yang tajam, Mallia disebut-sebut orang sebagai gadis wol dan sering dicari orang untuk mendapatkan sovenirnya yang cantik-cantik. Pada tiap buah karyanya yang dia rasa sangat indah, Mallia selalu membuat coretan tangan kecil sebagai lambang kepuasannya. Malliá

14 April 2014

Parfum Ori

Di sebuah kamar hotel, dua orang gadis yang berbeda rupa, watak, maupun usia, sedang sibuk packing. Besok siang mereka sudah harus kembali pulang dari acara tamasya yang... Menyenangkan?

Gadis yang lebih tua satu windu dari teman sekamarnya tiba-tiba mengeluarkan parfum dari dalam koper, parfum itu baru dibelinya dua hari lalu di Bandara. "Lihat, deh, kemarin saya beli Parfum Ori di Bandara. Lucu, ya, bungkusnya?"

Teman sekamarnya yang lebih muda satu windu itu kemudian mengambil kotak parfum yang sudah disodorkannya. Dan bertanya dengan niat basa-basi agar percakapan menjadi tidak basi. "Lebih murah, ya, kalau beli di Bandara?"

"Iya, ini empat ratus ribu saja." Jawabnya sambil melirik Body Cologne seharga sepuluh ribu rupiah–yang sering dipakai teman sekamarnya yang lebih muda satu windu itu–di atas meja rias.

"Saya enggak pernah beli parfum mahal, Mbak. Paling mahal kurang dari seratus ribu." Cengirnya lebar, kelihatannya sambil berpikir: buat apa beli parfum mahal-mahal? Toh, nanti bakalan habis juga. Bau parfum yang terlampau tajam pun membuat sakit kepala.

"Sekali-kali kamu harus beli barang bermerek! Lama-lama gajimu pasti membesar mengikuti pengeluaran. Dulu, nih. Waktu gajiku masih satu juta, juga sudah sering beli barang-barang branded. Termasuk parfum-parfum seperti ini." Pernyataan ini membuat yang mendengarnya beku otak beberapa detik. Sepertinya dia kebingungan, harus menjawab apa untuk menanggapi pernyataan gadis yang lebih tua satu windu darinya?

***
Pukul 09.15, Duren Tiga.

Dua orang, lelaki dan wanita, sedang bercakap-cakap di depan meja seorang wanita berparfum Body Cologne sepuluh ribu rupiah yang baru saja tiba di kantor. Bau parfum menyerbak di sekitarnya. Ternyata sedang ada transaksi jual beli parfum KW antara lelaki sebagai penjual dan wanita di hadapannya sebagai pembeli.

"Nih, Mbak, kalau mau barangnya lagi, gue titip bokap. Kemarin dia beli banyak banget." Begitu bujukan rekan lelaki sekerjanya merangkap sales parfum.
"Wangi, ya? Mirip yang Ori. Bulan kemarin gue beli parfum Ori di Bandara sama aja wanginya. Mahal doang tapi cepet ilang. Nyesel gue!"

Si Tambun

Si Tambun jalan tergopoh-gopoh menuju meja kerja anak buahnya.

"Salah apa lagi tuh anak baru?"
"Kita lihat, ngomel apa lagi dia sekarang."
Suara-suara bersahutan dari ruang sebelah yang dilewatinya.

"Wah. Perang lagi, nih!"
"Suaminya jadi kamu kirimi suplemen stamina xxx itu? Kali aja doi jadi kalem."
"Hihihihihi"
Sebuah pemandangan yang bukan lagi mencengangkan untuk beberapa orang.

"Aduh. Kasihan si Mbak itu, baru juga sebulan masuk kerja"
Mas OB iba, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kamu ini kerjanya ngapain aja dari tadi? Lambat banget!"
Mata Si Tambun melotot sampai mau copot–memergoki anak buahnya yang baru saja kembali dari Musala.
"Kalau dokumen ini belum jadi, kontrak kita bisa hangus. Tahu kamu?"
Dokumen itu dihentak-hentakannya dengan keras di meja, di muka anak buahnya.
"Gaji bulan depan semua karyawan satu perusahaan ada di kontrak ini!"
Suaranya, digabung dengan suara hentakan tadi, Alamak! Bukan main terdengar sampai ke Resepsionis.
"Kamu mau kita semua enggak makan bulan depan?"

Anak buahnya hanya bisa diam, sambil mengelus perutnya yang sakit, karena belum sempat makan dari kemarin siang.

21 November 2013

Sofa Merah Beledu

Ketika usiaku muda dulu, aku pernah mencari ujung pelangi. Aku penasaran seperti apa ujung pelangi itu? Pelangi yang datang setelah hujan. Hujan yang kubenci dulu karena adanya dia meniadakan anak-anak yang ingin bermain bola di lapangan. Kemudian, lengkung bewarna-warni itu muncul amat dramatis dari balik jendela kamarku. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu. Indah! Munculnya ketujuh warna yang tersusun rapi, setelah hujan meniadakan acara bermain bolaku–sehingga kerjaku hanya tersurut saja di dalam kamar–seakan berkata, "lihat! Aku adalah sesuatu yang muncul dari hal yang kamu benci." Karena kejadian itulah, aku bercita-cita untuk mencari ujung pelangi.

Kamu, pernah lihat ujung pelangi?

Kurasa rasa penasaranku ini tidak salah karena hampir setiap orang yang kutanya tidak pernah melihat ujung pelangi.

Dalam perjalananku mencari ujung pelangi itu, aku menemukan sebuah lubang besar yang seperti jurang, sangat lebar dan panjang. Saking panjangnya, hulu dan hilir lubang itu tidak kelihatan. Ujung pelangi yang aku cari masuk ke dalam lubang tersebut. Lubang lebar dan panjang yang kalau kita melihat ke dalam dasarnya hanya nampak kabut-kabut putih. Aku namakan Lubang itu, Lubang pelangi.

Aku terjun ke dalam lubang pelangi dengan pelangi.

Ternyata ada satu kota di dalamnya, aku sebut kota pelangi. Sedang ujung pelangi yang aku cari-cari? Tertancap masuk sampai ke dalam tanah. Kota pelangi tidak lebih indah dari ketujuh warna pelangi, rumah-rumah masyarakatnya kecil-kecil, seperti rumah Igloo orang Es Kimo, hanya saja atap rumahnya bewarna-warni. Masing-masing rumah ditempati oleh keluarga yang berisi Ayah-Ibu dan anak wanita atau lelaki yang belum terlampau dewasa. Karena ternyata wanita yang sudah dewasa (di sana setelah usia dua puluh lima sudah dikatakan dewasa) harus bisa hidup di dalam rumahnya sendiri sampai ada seorang lelaki yang datang dan diizinkan tinggal di dalam rumahnya, menetap, dan hidup bersama lalu memiliki anak. Jika anak mereka wanita, maka ketika usia dua puluh lima anak itu harus pergi dari rumah orang tuanya dan membuat rumahnya sendiri, lalu menunggu lelaki yang mau dan diizinkan tinggal bersamanya. Begitulah siklusnya. Bisa dikatakan di kota pelangi yang memiliki rumah adalah wanita dewasa. Sedang lelakinya hanya perlu mengunjungi wanita lalu menetap saja di dalam rumahnya. Hanya ada dua asal lelaki di kota pelangi, yang pertama adalah lelaki yang datang dari atas jurang sepertiku, yang kedua adalah lelaki yang dilahirkan tumbuh besar di kota pelangi.

 Masyarakat kota pelangi hidup rukun.

Aku tidak pernah berniat untuk hidup atau tinggal menetap di kota pelangi, karena niat awalku hanya ingin melihat ujung pelangi, yang ternyata tertanam jauh ke dalam tanah. Aku sudah pasrah, tidak mungkin aku menggali ujung pelangi sampai ke dasar bumi. Pada beberapa minggu yang telah kulewatkan di kota pelangi karena belum tahu bagaimana caranya kembali pulang, aku mengamati satu rumah unik. Sebenarnya cerita tentang rumah unik ini sudah sering kudongengkan kepada kerabat yang haus cerita atau kepada anak-anak yang mudah percaya. Saat ini ada baiknya kutuliskan saja. Semakin tua umur semakin sedikit ingatan yang bisa diandalkan, sedang ingatan tentang rumah unik milik wanita bernama Cantik yang telah berusia dua puluh lima, sayang sekali jika sampai banyak yang tidak bisa kuingat.

Cantik memiliki rumah beratap putih yang kontras dengan atap bewarna-warni milik masyarakat kota pelangi lainnya. Ruang tamunya yang kecil hanya berisi dua buah kursi di dalamnya. Satu kursi untuk tamu dan satu kursi untuk dia duduki. Maka dari itu dia hanya bisa menerima satu orang tamu saja. Jika kebetulan ada tamu lain yang ingin masuk, dengan sangat terpaksa tamu itu harus sabar menunggu di luar sampai tamu yang berada di dalam rumah sudah kehabisan kepentingan. Yang menarik dari rumah Cantik adalah sofanya. Ya, sofa merah beludu yang selalu didudukinya. Jika sedang tidak ada tamu, yang dia lakukan adalah membersihkan bulu-bulu lembut sofa kesanyangannya itu. Satu sofa untuk tamu ditempatkan berhadapan sofa merah beludu.

Tamu-tamu yang sering datang ke rumahnya kebanyakan adalah lelaki. Maklum, dia masih sendiri. Dari yang masih kecil sampai yang sudah uzur, dari penduduk asli kota pelangi sampai pendatang tersesat sepertiku, dari yang hanya menghabiskan waktu luang dengan bertamu sampai yang berniat untuk menetap tinggal di dalam rumah bersamanya.

***

Bobi adalah anak berusia lima yang sering datang ke rumah Cantik. Bobi hanya ingin bermain saja. Bermain dengan teman sebaya itu membosankan, begitu alasannya jika ditanya kemana teman bermainnya? Karena masih kecil, Bobi tidak peduli bagaimana perasaan orang dewasa terhadapnya. Walau Cantik sudah letih menemaninya bermain, Bobi tidak peduli. Yang penting buatnya adalah selalu ada orang yang bisa menemaninya bermain kuda-kudaan, membantunya mengikatkan tali sepatu yang tidak pernah bisa dia lakukan, dan membelikannya bertoples kue cokelat kering atau balon bewarna-warni. Setelah sore dan merasa bosan, Bobi pulang ke rumah orang tuanya, meninggalkan Cantik sendirian yang sudah kewalahan. Tentu saja Cantik tidak tega untuk tidak acuh kepada Bobi yang masih kecil, lugu dan menggemaskan. "Ah, anak kecil."

Ada juga pemuda Punk berkulit putih yang datang dari atas jurang. Dia seringkali membuat Cantik merasa terpukau dengan hadiah-hadiah yang dibawanya. "Ini namanya bunga kembang sepatu, bunga cantik ini kupetik hanya untukmu!" Lalu keesokan harinya dia membawa berkotak-kotak cokelat yang sangat lezat dan manis, "Ini namanya cokelat Toblerone, kubeli hanya untukmu!" Keesokan harinya lagi dia membawa gaun-gaun nan seksi, "lihatlah gaun indah yang akan membuat tubuhmu terlihat semakin indah, hanya untukmu!" Karena penasaran, aku memerhatikan pria Punk itu lagi pada minggu berikutnya. "Lihat! Aku membawa kondom. Kalau ini untukku!" Ternyata hari itu adalah hari terakhirku melihat pemuda Punk di kota pelangi. Setelah kejadian pemuda Punk yang tidak lagi memberi Cantik hadiah melainkan sesuatu yang hanya untuk dirinya sendiri, aku tidak lagi melihatnya. Mungkin Cantik hanya berharap hadiah-hadiahnya saja, bukan kunjungan atau kehadirannya. Sejak hari itu, tidak ada lagi pemuda yang datang bertamu ke rumah Cantik membawa berbagai macam hadiah.

Pria necis yang agak dewasa dengan sabuk tebal di pinggangnya rutin mengunjungi Cantik di pagi hari. Dia adalah guru di desa pelangi. Mendatangi Cantik sepuluh menit sebelum jam belajar dimulai. Orangnya pendiam, sedikit tertutup dan amat sopan. Tidak banyak hal yang dibicarakan oleh pria necis dan Cantik di dalam rumahnya. Sehingga mereka berdua sering kali hanya duduk berhadapan tanpa melakukan apa-apa: Cantik duduk saja di atas sofa merah beludunya, pria necis duduk dihadapannya sambil mengelap keringat di jidat dan berharap waktu sepuluh menit tadi tidak berlalu cepat. Nyatanya waktu sepuluh menit tadi amatlah singkat dan membuatnya selalu terburu-buru agar tidak terlambat. Terburu-buru datang, terburu-buru berpamitan, terburu-buru pergi, sedangkan waktu yang mereka habiskan untuk berbicara satu sama lain adalah lambat-lambat. "Hai bagaimana perasaanmu hari ini?" Dua minggu lamanya aku menunggu, akhirnya aku mendengar kata-kata serius yang keluar dari mulut si guru necis itu kepada Cantik. Dua minggu penantian dan hanya kalimat yang bagiku tidak terlalu penting diucapkannya saat semua orang di kota pelangi sudah tahu bahwa guru necis itu sudah menetap tinggal dengan wanita dua puluh lima lain kemarin sore, tetangga Cantik.

Selain aku yang sesekali mengunjungi Cantik untuk berbagi kisah bagaimana orang-orang di atas lubang pelangi menjalani kehidupannya, sambil menjelaskan benda-benda yang kubawa dari rumah. Bagi Cantik ketapel dan kelereng yang baru dilihatnya pertama kali adalah benda yang lucu. Ada juga paman Jim yang sesekali mengunjungi Cantik untuk mampir sebentar dan duduk-duduk menanyakan kabar. "Bagaimana kabarmu hari ini, Cantik?" Atau, "apakah harimu menyenangkan?" Atau paman Jim akan menenteng sekantung makanan berlebihan yang dimasak oleh istrinya, "hai Cantik, makan ini agar badanmu tidak kurus kering."

***

Bagaimana nasib Cantik setelah aku meninggalkan kota pelangi? Aku tidak tahu. Yang aku tahu dia telah mengecat atap rumahnya menjadi warna merah jambu sehari sebelum aku pergi menuju atas lubang. Mungkin saja dia sudah beranak lima dengan pemuda bergaya Punk. Atau hidup bahagia dengan pria necis bersabuk tebal. Atau membuat taman kanak-kanak untuk Bobi dan teman sebayanya. Atau.

Atau.

Masihkah dia menunggu seseorang seperti, yang menyuruhnya menggeser kursi kesayangannya, sofa merah beludu, untuk berada dekat di sampingnya. "Mari geser sofamu di samping kursiku. Akan kutunjukkan sesuatu yang lucu."

21 October 2013

Nemu Duit

Pada Sabtu pagi yang agak mendung, kakak-beradik sedang asik jogging di Stadion olahraga utama kota.

“Ih, nemu duit!” Teriakan si adik membuat kakaknya menoleh kebelakang, memerhatikannya sedang memungut sesuatu.

“Berapa?” Sahut sang kakak acuh tak acuh.

“Dua ribu.” Terkekeh-kekeh adiknya seperti orang sedang menang lotre. “Tapi biasanya kalau nemuduit, terus dijajanin, pasti duit gue ilang lebih dari ini. Dulu nemu dua ribu ilangnya dua puluh ribu.”

Masih jelas ingatan kakaknya akan cerita adik lelaki satu-satunya yang sering kali menemukan uang di jalanan. Tetapi sialnya, beberapa hari setelah itu, pasti uangnya hilang. Dan lebih sialnya lagi, uang yang hilang jumlahnya bekali-kali lipat daripada uang yang dia temukan di jalanan. Kasihan.

“Disumbangin aja.” Kakaknya memberi saran, “daripada nanti duit lu ilang lagi.”

Tetapi si adik memiliki ide yang lain, “lumayan buat parkir motor,” katanya.


Keesokan harinya. Minggu siang cuaca cerah, kakak-beradik itu sedang tidak kemana-mana, memenuhi rumah bersama Mamaknya.

"Mak, tadi nemu duit nggak di lantai, lima ribu?"

“Enggak.” Begitu saja sahutan dari Ibunya, sepertinya Ibunya tidak peduli anak lelakinya kehilangan uang sebesar lima ribu rupiah saja.

"Nek, lu liat duit gue nggak? Jatuh di lantai, lima ribu." Tanya adik kepada kakaknya yang sedari tadi asik sendiri di balik laptop kesayangannya. Tetapi kakaknya tidak menjawab pertanyaannya. Si adik sudah paham sebetulnya, kalau tidak menyahut berarti kakaknya sedang tidak ingin diganggu.

“Kalau lagi bokek, duit lima ribu kan berharga banget." Gumaman si adik terdengar samar-samar seiring kepergiannya menjauhi ruangan. "Ini pasti gara-gara nemu duit kemarin deh!" Meninggalkan ruangan tempat dimana Ibunya sedang duduk-duduk dan kakaknya sedang asik sendiri dengan laptop kesayangannya.

Adiknya tidak mengetahui bahwa di balik laptop kesayangannya, sang kakak sedang bercekikian geli. Dia tersenyum bukan karena melihat gambar-gambar lucu pada layar laptopnya, tetapi sedang mengingat kejadian tadi pagi ketika dia menemukan uang lima ribu rupiah pada lantai di samping tempat tidurnya.

13 October 2013

Pukul Tujuh Pagi

Peri kecil itu tidak pernah tega melihat anak kecil itu selalu menangis di pojok ruangan kecil di atas tempat tidurnya yang kecil, di pagi hari.
"kenapa kamu menangis?" Tanya peri kecil seperti tidak pernah lelah bertanya.
"Aku ingin membunuh Ayahku atau Ibuku." Jawab anak kecil seperti lupa dia sudah sering ditanya.

Kemudian peri kecil akan mengusap-usap rambut ikal kecoklatan si anak kecil dengan diam.
Anak kecil terisak-isak kencang.

Di balik bilik kasur kecil si anak kecil, sangat jelas terdengar oleh telinga.
"Bang, bangun, sudah siang, sholat." Ujar wanita putus asa menarik kaki suaminya.
"Ibadah itu tidak bisa dipaksa-paksa, dari hati! Tau kau?" Jawabnya penuh murka menendang istrinya sampai tersungkur di depan pintu dapur.
"Bang, bangun, sudah siang, kerja." Ujar wanita tidak bertenaga menarik lengan suaminya.
"Kepalaku pusing, ini masih pagi! Tau kau?" Jawabnya dengan amarah menampar pipi kanan istrinya sampai merah.

"Jangan menangis." Masih mengusap rambut ikal kecoklatan si anak kecil dengan tangan halusnya, pinta peri kecil.
"Aku ingin membunuh Ayahku atau Ibuku." Anak kecil itu mengadu, tetapi isak tangisnya sudah melembut.
"Ini sudah jam tujuh pagi, kamu harus sekolah, anak kecil." Peri kecil mengingatkan satu-satunya hal yang membuat anak kecil itu menjadi riang kembali.
"Lekas bangun! Bel sekolah sudah berbunyi, tak mengapa, ini baru jam tujuh pagi. Ayo berlari!" Peri kecil kembali menyemangati.

Dalam langkah lekas-lekasnya ke sekolah, anak kecil itu selalu ingat bahwa yang paling ingin dia bunuh adalah dirinya yang begitu kecil. Tetapi... Dia ingat kembali, dia tidak ingin kehilangan peri kecilnya, pada pukul tujuh pagi.

30 July 2013

Balita Yang Terus Menatap Saya



Ada balita yang terus menatap saya, di dalam bus kota jurusan Salemba - Kebayoran Lama.
Mungkin dia tahu, saya sudah berbuat dosa dengan lelaki beranak tiga.

Balita yang digendong dipangkuan ayahnya; dipegang-pegang di samping Ibunya.
Kerjanya hanya mengunyah kepalan tangan saja. Sela-sela jarinya sudah banjir air liur semua.

Saya tidak menghiburnya. Saya tidak memegang kepalanya atau kepalan tangannya.
Saya kehabisan tenaga,
hati dan raga remuk semua.

Balita tidak tertawa,
bahkan ketika digoda ayahnya.
Dia berempati melihat saya.
Bibir jadi pucat, atau mata jadi colong, atau rambut lupa ditata. Saya tidak sempat berkaca.
Hari sudah keburu senja ketika saya mulai duduk di belakangnya.

Sudah dua hari saya belum pulang, belum kena shower mandi dan sikat gigi.
"Besok ada ujian Aqidah. Aku menginap di rumah teman, ya" pamit saya pada orang tua.

Lalu saya mengumpulkan nyali. Saya berlari ke kamar kosong pengap dan sunyi. Meregangkan kedua kaki.

Sudah dua hari saya di sini. Tidak akan saya ingat-ngat: dilarangnya menangis, dilarangnya berteriak-teriak. Kalau tidak kuat, saya menggigit bantal kuat-kuat.
"Tunggu dua jam lagi!" sudah dari empat jam lalu dia berkata untuk kedua kali.
"Telan obat ini! Dan juga obat ini!" Delapan butir pil dicekokinya kembali.
.
Seperti keran di putar kepalanya. Menjelang sore, cairan kental memancar deras keluar dari sang liang.
Merah. Pekat. Banyak. Setengah ember dapat.

Tidak perlu lagi obat masuk angin pura-pura kusesapi. Tidak perlu lagi baju longgar kukenakan supaya body tersamakan. Tidak perlu lagi kekhawatiran di sekolah, di rumah, di depan Ibu-Ayah, ditampar lelaki yang tidur dengan saya.

Tidak akan pernah ada pemandangan balita seperti dia. Balita yang terus menatap saya. Digendong ayahnya; dipegang-pegang Ibunya.

Tenang saja... Tidak akan ada yang berteriak Papa. Hahaha.
Akan saya hadiahkan untuknya yang sedang berulang tahun ke tiga-puluh-tiga, dua liter darah pada kepalan tangan.


20 Juli 2013
Pada bulat mata balita di dalam bus kota menuju Salemba

13 July 2013

Segelas Teh Manis Hangat

Prakata:

Berita musibah longsornya PT. Freeport di tanah Papua adalah bukan yang sekali. Mungkin, harus hancur dulu semuanya baru kita mengerti bahwa sudah kehilangan banyak. Ada mata indah lelaki kecil berseragam putih merah yang saya tatapi dan kagumi, duduk di hadapan saya, di dalam angkutan umum menuju rumah. Dari penampilannya saya bisa tebak bahwa lelaki kecil ini berdarah Papua atau Indonesia timur sekitarnya. Bola matanya saya kagumi seperti berlian; berlian yang membuat mata semua orang ingin menguasai dengan cara apapun termasuk jika harus mencongkelnya sampai mati. Lalu supir taksi bertopi seniman mirip Pak Sapardi Djoko yang saya tumpangi seminggu lalu bercerita mengenai branding, sumber daya sampai ke koperasi Indonesia. Menarik. Betapa angkutan umum selalu punya banyak cerita.



***

Headline utama surat kabar:
Selasa Pagi, 14 Mei 2013.



Dia menggapai-gapai tangan saya lalu menggenggamnya. Jempolnya menindih jempol saya, telunjuknya menindih telunjuk saya, begitu seterusnya sampai ke kelingking. Kemudian mereka, jemari kami, saling mencari celah; saling mengaitkan.

“Rasanya hangat,” begitu akunya pertama kali. Padahal tangan kami sudah seringkali saling berpagutan.

“Iya, tanganmu memang hangat” timpal saya sederhana.

“Aku belum tahu ternyata tanganku hangat begini, yah?”

“Itu karena tanganku yang dingin”, dia masih saja mencari topik-topik perbincangan ringan, sedangkan saya masih saja kikuk untuk memulai perbincangan penting ini.

Perbincangan yang sedikit serius. Atau perbincangan serius. Agaknya sama, sering kali membuat kikuk kaum lelaki. Dia, wanita kecil yang ada di samping saya malah asyik sendiri bermain dengan tangan-tangan kami. Dia, memang sudah tahu apa yang seharusnya saya utarakan sekarang, bersikap demikian pasti agar saya bisa sedikit lebih tenang dan mengurangi kecanggungan.

“Kamu tahu gak, aku gak pernah merasa begitu cantik sebelumnya.” Akunya lagi.

“Pasti karena semua orang bilang pacarmu begitu jelek.” Saya agak tersindir sih, sedikit.

“Bukan! Tapi karena aku dibikin merasa begitu penting artinya buat seseorang. Lagian.., Beauty and The Beast yang pernah kamu ceritakan, dongeng cinta yang happy ending, kan?”

“Setelah dia berubah menjadi pangeran.” Saya menegaskannya karena The Beast masih bisa menjadi tampan. Sedangkan saya...? 

“Kamu juga sudah membuat aku seperti putri dengan tidak perlu memutihkan kulit atau mengenakan jubah dan menunggang kuda poni. Hehehe” Katanya sambil memeluk lengan kanan saya.

“Seharusnya kita ke warung saja. Aku mau minum teh manis hangat buatan kamu, daripada sebulan ke depan pasti rasanya..., jadi...”

“Eh! Kamu tahu gak kenapa teh buatan aku bisa enak begitu? Itu ada rahasianya loh, kalau kata Kolonel Sanders penemu ayam KFC: SE-CRET RE-CIIIPE”

Belum habis bicara saya tetapi dia sudah memotongnya dengan pertanyaan yang membuat monyong bibirnya karena pengucapan bahasa inggris yang terbata-bata. Menggemaskan. Itu juga alasan saya senang mengajarkannya bahasa Inggris, selain mimiknya yang lucu juga untuk membuat dia paham percakapan bule yang sering datang mencicipi makanan di warungnya.

“Apa resepnya?” Tanya saya penasaran. Saya jadi teringat, karena teh hangat itulah kami bisa sedekat sekarang.
         
Jalan Malioboro, awal maret tahun 2009. Perkumpulan mahasiswa kami yang disingkat dengan IPMAMI UGM (Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Mimika Universitas Gajah Mada) mengadakan bakti sosial dengan menyelenggarakan pertunjukan seni jalanan dan tari-tarian daerah. Biasanya acara seni untuk menggalang dana buat saudara-saudara kami di Papua rutin kami adakan setiap empat bulan sekali sehabis ujian semester. Sayangnya, hari ini gerimis lebat, akhirnya acara kami tunda sampai cuaca membaik kembali.

Saya merasa kedinginan, saya putuskan untuk mencari minuman penghangat badan. Syukur di jalan ini banyak angkringan enak. Makanan murah seharga seribu-dua ribu rupiah yang pas dengan kantong mahasiswa daerah seperti saya. Angkringan yang paling dekat letaknya di samping Malioboro Mall. “Segelas teh manis seharga seribu, enak juga nih. Cukuplah uang di kantong celana yang hanya tinggal tiga ribu saja,” begitu pikir saya menghampiri gerobak besar berisi banyak variasi makanan yang di depan dan samping kirinya dilengkapi dengan tempat duduk kayu panjang itu.

Dibantu dengan Ibunya, ada gadis manis berkulit putih melayani pembeli, “pasti dia bukan orang Jogja asli.” Pikir saya sembarangan. Hanya ada dua orang wanita yang melayani pembeli angkringan ini, dua orang yang sama cekatannya. Membakar sate pesanan, mengaduk teh yang mau dihidangkan, mengembalikan uang pembeli dengan senyuman. Pemandangan mereka mengalihkan rasa dingin di badan. Dan acara tari yang seharusnya saya bantu untuk memegang dan menawarkan kotak amal untuk diisi uang oleh pelancong yang lewat (berhubung saya tidak pandai menari jadi hanya kebagian tugas ini) menjadi terlupakan.

Keduanya sama cantik. Tetapi anak gadisnya, amboiii! Menarik perhatian. Saya jadi dibuat betah duduk-duduk, berlama-lama mengunyah sambil dengan tidak sadar tersenyum sepanjang melihat wajahnya, si gadis bertubuh kecil ini. Ah…, persetan cerita-cerita picisan cinta pada pandangan pertama dan buku-buku romantis sejenisnya. Yang saya alami ini jauh jauh lebih manis pokoknya.

“Astaga! Sudah berapa banyak yang saya kunyah ini?” kaget saya dalam hati. Akhirnya gerimis yang berhenti membuat saya sadar punya kewajiban. Dan yang lebih membahayakannya lagi, saya tidak membawa cukup uang!

“Berapa semuanya, dek?”Tanya saya prihatin.

Dia memandang wajah saya untuk pertama kali dengan bola mata besarnya itu, saya merasa seperti dipelototi. “Nasi tempe sebungkus, gorengannya dua, sate ati juga dua, emm…, sama teh manis hangatnya. Jadi semuanya, enam ribu rupiah, kak.” Akhirya dia selesai menghitung semua makanan yang saya makan. Dan saya kembali cemas.


“Jadi, SE-CRET RE-CIIIPE yang enak dari teh poci buatanku adalah …”


Saya pura-pura merogoh celana, mencari sisa uang. “Wahh… Begini, dek. Ternyata saya lupa membawa uang. Saya Berjanji saya akan kembali lagi besok. Bagaimana? Ini hanya tiga ribu rupiah dan kartu pelajar saya gadaikan. Besok saya kembali lagi. Sungguh.” Dengan memelas saya memohon.

"Saya tidak bisa menjanjikan kembali lagi malam ini untuk membawa sisa uang yang kurang kepada kamu. Saya tidak enak dengan teman-teman bila mangkir acara kembali.” Dia hanya mengangguk-angguk tanda setuju dengan wajah bingung atau karena takut melihat penampilan saya yang tidak seperti pelajar sungguhan. Kulit kami memang hitam, bertampang seram, orang banyak bilang kalau kami cocok jadi preman. Saya paham.

Sore esoknya saya kembali, membawa sisa hutang kemarin malam dan mengambil kartu pelajar yang saya gadaikan. Lalu, ada ritual yang sama setiap menjelang malam di samping Mall Malioboro. Saya menyeruput segelas teh manis hangat spesial.


“Pertama-tama, panasin air sampai mendidih. Sambil menunggu air mendidihnya tidak terlalu panas, siram teko tempat kita akan menaruh air teh dengan air panas. Makanya wadah yang bagus itu sebaiknya terbuat dari kaca atau alumunium, karena kalau wadahnya plastik nanti warna kecoklatan tehnya akan menempel. Setelah tekonya jadi panas, tuang teh lalu air mendidih yang sudah agak didiamkan sebentar tadi kedalamnya. Sebaiknya sih emang jangan disiram langsung dengan air yang baru mendidih dari kompor, soalnya akan merusak bau tehnya. Kalau sudah dituang semua bersama dengan gulanya, aduk-aduk searah jarum jam sampai wanginya keluar. Hummm! Dan terakhir…, tutup tekonya agar wangi tehnya tertahan di dalam.” Begitu penjelasan panjang lebarnya mengenai demo membuat teh poci enak.

“Ya Tuhan…, bila membuat teh begitu rumitnya, saya rela membayar dua ribu rupiah seumur hidup.” Timpal saya agak dramatis.

Tidak hanya pandai membuat teh, Ida, gadis yang tidak rela saya tinggali sendiri ini juga pandai membuat kue dan menjahit. Siang hari dia menerima pesanan jahitan membantu Ibunya memenuhi kebutuhan harian. Malamnya, kalau tidak kelelahan, dia membantu Ibunya di angkringan. Dan setiap minggu pagi, dia menjajakan kue buatan sendiri di bazaar parkiran kampus.

Setelah kematian ayahnya, gadis sunda itu menetap hidup di Jogja. Berbekal pengetahuan teman Ibunya yang orang Jogja asli berdagang angkringan.


“Kata Ibuk, anak cewek harus bisa menghasilkan sendiri, karena aku tidak punya bapak.” Begitu katanya suatu hari pada sela-sela obrolan kami.

“Bapakku juga mati tertimbun tanah tapi Mama di Timika tidak pernah menyuruh saya untuk bisa membuat kue.” Balas saya dengan tidak kalah menyedihkannya tidak punya seorang ayah yang bisa diciumi tangannya ketika akan berangkat ke sekolah. Dan dia menjadi tertawa mendengarnya. Anak manis yang pintar yang harus putus sekolah. Sedangkan saya lebih beruntung, masih ada beasiswa ganti rugi tempat almarhum Papa bekerja yang mengucur setiap tiga bulan untuk keperluan biaya kuliah.


“Pulanglah, kak. Walau aku mau kamu terus berjuang di sini. Terbanglah ke tanah lain jika tanah yang kamu tempati sekarang sekarang justru membuatmu mati pelan-pelan.” Akhirnya, justru kata-kata yang keluar dari mulutnya yang dari tadi tidak bisa saya ucapkan, untuk sekadar berpamitan pulang ke kampung halaman.
         
Beasiswa dari tempat bekerja almarhum Papa dicopot tiba-tiba. Dengan alasan pendidikan saya sudah sampai delapan semester, padahal saya tahu mereka sedang mencari-cari alasan untuk mengikat saya menjadi pekerja mereka, seperti Papa. Mereka akan tetap memberi saya uang setiap tiga bulan dengan syarat ikatan dinas perusahaan. Tetapi saya tidak mau menjadi seperti Papa. Walaupun teman-teman menyayangkan keputusan saya untuk tidak menerima tawaran mereka, perusahaan tambang besar yang siapa orang tidak kenal namanya. Mereka bilang saya munafik dan terlalu idealis. Mereka bilang saya tidak seperti mahasiswa ekonomi lainnya yang berprinsip "dengan modal yang sekecil-kecilnya mendapat untung yang sebesar-besarnya". Saya, hanya tidak ingin menjadi seperti Papa yang digadaikan negaranya.

Tinggal satu semester lagi untuk saya menyelesikan penelitian ini. Saya harus berjuang kemana lagi disaat semua bantuan belum bisa sangat menolong? Jalan keluar yang paling baik adalah saya pulang, ke Papua, untuk berdiskusi dengan Mama. Makin cepat semakin baik. Walau keputusannya nanti, saya harus tinggal menetap di sana. Saya terus berharap yang terbaik, untuk saya dan untuk Ida.

“Mau kemana?” Tanya saya kepada Ida yang kelihatannya akan bergegas, kemudian berdiri ke hadapan saya, menatap lekat-lekat mata saya dengan kedua bola mata besarnya yang hangat.

“Kak, aku pulang dulu. Aku tinggalin kamu sebentar disini. Aku tunggu kamu untuk memintaku mengaduk segelas teh manis hangat spesial lagi.” Setelah memeluk erat pinggang saya, Ida berlalu pulang tanpa pernah menengok kebelakang.


*Dua bulan kemudian.

Dek Ida.

Kuberi tahu sesuatu, tanggal 12 Juli adalah hari ulang tahun koperasi Indonesia. Aku harap surat ini sampai tepat tanggal 12 Juli. Karena aku akan menerima surat yang sama menyenangkannya tepat pada tanggal itu.

Beasiswa di tempat Papa tidak ada harapan, aku melepaskannya. Aku tidak ingin dijadikan barang dagangan oleh calo-calo berseragam kekuningan yang duduk di balik gedung mewah, yang dengan bangga mereka sebut diri mereka sebagai abdi Negara. Nyatanya, mereka malah menjual tanah dan saudara mereka sendiri pada pihak asing demi perut kenyang semalam, dan kami semakin kelaparan. Mereka lebih cocok kusebut calo: perpanjangan tangan orang-orang yang ‘berkepentingan’.

Seperti yang sudah pernah kubilang, aku pasti berjuang walau mungkin hasilnya tidak menyenangkan. Aku sudah berjuang. Dan perjuanganku di sini tidak dengan hasil yang sia-sia. Aku bergabung dengan NGO (Non Government Organization) di Papua. Orang-orang yang sepaham dengan mauku ternyata masih banyak. Yang masih mencintai tanah mereka melebihi rasa laparnya. Tetapi, ada harga yang harus kubayar, dek. Aku harus belajar lebih giat lagi ke Inggris selama dua tahun untuk menyerap semua ilmu ekonomi koperasi di sana. Aku akan berangkat bulan depan.


Aku bahagia cita-citaku tidak berbelok terlalu jauh. Semoga kamu sama bahagia juga mendengarnya. Kami semua yang tergabung di sini akan menjadi penebar benih-benih koperasi kecil di setiap daerah, dan bukan hanya di Papua. Kami semua akan melawan segala macam bunga menyesatkan yang makin menyengsarakan usaha saudara-saudara kami.

Dek, aku ingin banyak orang-orang yang seperti kamu menjadi termudahkan. Yang bisa bergantung dan bertahan hidup pada usaha dan keterampilan kecilnya daripada harus mengemis atau menjadi calo di gedung mewah.

Sesudah kamu membaca surat ini, kurasa kamu harus membeli banyak teh bubuk karena aku akan menagih segelas teh manis hangat spesial buatan kamu. Dua hari lagi.


Salam rindu,

Tatena

01 June 2013

Nama di Balik Jendela

Terik siang begini selalu mengingatkanku pada sebuah mimpi, mimpi yang dulu sekali.

Pernahkah pada masa kanak kamu bermimpi tentang satu hal dan mimpi tersebut masih terekam dengan sangat jelas sampai kamu menjadi dewasa dan tua? Pada usia sembilan aku pernah bermimpi, seperti sedang melihat televisi berlayar tujuh puluh inch tanpa pengeras suara (karena pada mimpi itu aku tidak dapat mendengar suara apa pun melainkan kejadian), gadis belia dikuncir kuda bermain bersama seorang pria yang sebaya dengannya. Mereka sedang bermain sepatu roda. Lebih tepatnya, si pria sebaya sedang mengajarkan cara bermain sepatu roda kepada si gadis belia. Bukan sepatu dengan empat roda–dua roda di depan dan dua roda di belakang–tetapi sepatu roda Inline Skate yang sedang ngetrend pada masanya itu. Sepatu dengan empat roda yang tersusun pada satu baris vertikal di bawahnya.

Mereka, si gadis belia dan pria sebaya sedang bermain sepatu roda bersama, tertawa riang dan berpegangan tangan di terik siang, di lapangan komplek yang dari balik jendela kamarku terlihat sangat jelas pemandangannya.

Biasanya menjelang sore lapangan itu sering dipakai untuk bermain futsal atau sekedar tempat untuk berlari-larian anak-anak kecil dan setelah malam tiba lapangan itu digunakan sebagai lahan parkiran oleh penghuni di sebelahnya. Di lapangan itulah yang luasnya tidak lebih dari seratus lima puluh meter persegi aku bermimpi menyaksikan gadis belia dengan takut-takut tetapi bahagia berusaha menggoeskan sepatu rodanya. Sepatu istimewa yang bahkan pada mimpi pun sebenarnya dia tidak berani berharap untuk memiliki. Bahagia. Apalagi ditemani oleh seseorang yang sama bahagia dengannya saat itu. Apalagi ketika pria sebaya selalu mencoba menggodanya dengan melepaskan tangannya pada genggaman gadis belia, "Ha! aku lepas kamu", mungkin begitu katanya (aku hanya mencoba menebak percakapan mereka karena suaranya tidak terdengar). Lalu si gadis belia menjadi ketakutan dan itu malah membuat pria sebaya semakin senang karena si gadis belia akan marah-marah dan mengencangkan pegangannya. Kemudian dari ekspresinya aku dapat melihat mereka tertawa terbahak-bahak kegirangan.

Mereka kegirangan mengitari pinggiran lapangan.

Sayangnya itu hanya mimpi yang membuatku damai ketika bangun di pagi hari. Rasa damainya seperti kesegaran mata air pegunungan meresap mengalir dari kepala sampai ke kaki. Mimpi yang aku yakini bahwa esok hari aku bisa merasa sebahagia itu tidak peduli seberapa pun mendung hariku karena kecewa, dilecehkan dan diperlakukan tidak adil, langit mendung itu pasti akan kembali tergantikan dengan langit cerah seperti yang ada pada mimpi. Sayangnya aku tidak ingat siapa nama pria sebaya yang menemani gadis belia bermain sepatu roda.

Sampai saat ini, ketika terik siang begini dan aku teringat akan mimpi itu lagi, pada balik jendela yang dapat kulihat dengan jelas lapangan kecil itu sedang tersiram banyak sinar matahari. Aku masih saja mengeja-eja. Rio, Angga, atau Dewa yang telah mengajariku cara bermain sepatu roda pada usia belia? Yang telah membuatku bahagia bisa bermimpi memakai sepatu istimewa. Karena jujur saja, aku bosan berteman dengan kayu penyangga dan kursi roda.

24 May 2013

Kotak Makan Siang

Prakata:

Saya hanya sering bertanya, apa lelaki lebih bahagia dengan punya dua, tiga atau empat pasangan dibanding setia hanya dengan satu orang? Nyatanya di sekeliling saya banyak, dan saya jadi tahu satu kenyataan bahwa saya tidak bisa lagi selalu menyalahkan nafsu lekaki akan keputusannya punya lebih dari satu pasangan. Bagaimana dengan sikap wanita yang alpa? Yang bisa jadi sumber kegalauan pasangannya sehingga ia lebih memilih jalan tenangnya kepada yang lain; sekaligus tidak bisa memutuskan komitmen karena tanggungan dan rasa iba di belakangnya. Rumit, memang. Dan karena saya wanita, yang bisa saya teriakkan hanya hal ini saja.

Cerpen ini pun dengan iseng saya ikutkan pada lomba bertajuk Perempuan Dalam Cerita yang jika terpilih ceritanya akan dibukukan, sedangkan royaltinya akan disumbangkan kepada Lembaga Pemberdayaan/Perlindungan Perempuan Korban Kekerasan dan Perkosaan. Sayangnya saya tidak menang dan hanya masuk 30 besar saja. Untuk bukunya sudah bisa di dapat online disini

Lumayan kan? Teman-teman bisa dapat cerita bagus sekaligus bisa beramal. :)

***

Ayah jarang menasihati apalagi berkata-kata yang tidak perlu, maka itu aku ingat sekali ayah pernah bilang "sesulit apa pun pilihannya, jadi saja wanita baik"

  
Gambar oleh Cornelis Adiatma Wibisana

Dimanapun itu aku tidak pernah jadi seorang yang menonjol, di sekolah, di lingkungan rumah, pada kelompok belajar, di kantor, tidak juga di angkot atau bus kota. Biasa-biasa saja. Tidak pernah mendapat prestasi yang sangat menonjol ataupun melakukan kenakalan tolol. Tidak cantik yang bisa membuat orang-orang melirik pun tidak jelek sehingga mudah diejek. Tidak pula banyak teman mengelilingi apalagi sekelompok sahabat yang disebut orang geng muda-mudi masa kini. Hidupku sudah cukup penuh oleh pekerjaan-kalau dulu-belajar, sekolah, pulang ke rumah-merapikan rumah, dan membantu Ayah. Dua puluh empat jam dalam sehari, setiap hari, selalu cukup waktu untuk kulalui. Karena itu, orang sering sering lupa kehadiranku. Mungkin segan sebab aku pendiam dan tidak pandai berolahkata.

Contohnya saja hari ini, orang-orang di ruangan sudah ribut akan berangkat naik apa ke farewell party bapak manager IT yang kelompok kubikelnya ada di sebelah kami. Karena masih di satu koridor ruangan, tim general affair yang hanya berstafkan delapan orang ini, diundang semua ke perayaan. Ribut-ribut dari jam sebelas tadi masih saja belum usai. Hal yang diributkan tidak lain dari persoalan numpang kendaraan siapa, akan naik apa ke sana, atau tungu-tungguan karena ada kerjaan yang belum juga kelar, dan suara-suara lainnya yang melengkapi keriuhan isi ruangan sehingga tidak ada yang konsen pada pekerjaan. Aku malah santai-santai saja dengan monitor kerja dan tidak berkeinginan untuk ikut karena hari ini membawa bekal makan siang. Bekal buatan ayah yang sudah lebih dari spesial jika disandingkan dengan seporsi nasi restoran bintang lima. Bagiku makan itu bukan tentang berapa nikmat menunya, tapi siapa orang di balik pembuatnya. Ayah bukan koki restoran mewah, makanan yang dia buat tentu tidak senikmat itu, bila dibandingkan masakan warteg belakang gedung kantor ini saja mungkin akan kalah enaknya. Tapi apapun yang diciptakan Ayah selalu terasa spesial. Jam lima pagi tadi ayah sudah ribut-ribut di dapur, memastikan goreng telur dan tempe ini matang presisi. Tampang seriusnya sama ketika ayah mengerjakan tiang-tiang rumah yang rusak, genteng yang bocor, dan mungkin akan sama atau lebih serius lagi ketika dia bekerja dengan anak-anak buahnya, memandori gedung-gedung tinggi yang baru dibangun di tengah kota. Kesungguhan ayah dalam mengerjakan apapun selalu membuatku terharu, tapi tidak begitu dengan Ibu.

"Lis, apa kamu tidak ikut? Dari tadi kok tenang saja," suara Mbak Desita yang duduk dua meja di sebrangku membuyarkan lamunanku tentang ayah.

"Aku lagi bawa makan, kayaknya enggak dulu deh, Mbak," begitu alasan yang kuucapkan kepada Mbak Desita.

 Mbak Desita adalah sekretaris necis kami yang supel dan wangi, orang yang paling perhatian satu ruangan. Uniknya Mbak Desita, dia selalu mengenakan pakaian dan aksesori yang matching dari atas kepala sampai ujung kaki. Hari ini saja pakaian yang dia kenakan bernuansa hijau, sesegar Taman Suropati. Blazer tipis dengan blus hijau muda di baliknya, dipadukan rok putih berstrip hijau pada bagian bawahnya, dan wedges tali hijau stabilo yang dikenakan untuk mempercantik kaki sewarna dengan kuncir hijau pengikat rambut panjang lurusnya. Ajaibnya penampilan Mbak Desita tidak pernah terlihat norak, muda dan ceria. Anehnya walau sudah semenarik itu, Mbak Desita masih saja senang melajang.


Sebenarnya bisa saja aku ikut meramaikan pesta lalu hanya memesan segelas minuman ringan, tetapi aku benci berbasa-basi di keramaian. Channel youtube favorit, kotak makan siang buatan ayah, dan segelas latte hangat buatan Mas Andri, OB muda kami, sudah cukup menentramkan sekaligus meramaikan istirahat siangku hari ini.

"Wah, kamu gak ikut juga ya? Saya pikir saya sendirian siang ini," suara lelaki di balik meja dispenser mengejutkanku tiba-tiba.

"Saya harap juga begitu pak," dalam hati ku tanggapi begitu tetapi yang keluar malah, "Iya Pak, kebetulan saya bawa makan siang"

"Wah sama dong. Kalau begitu kita makan bareng saja," Jawab Pak Wayan antusias.


Kali ini aku lihat Pak Wayan jauh lebih antusias dengan bekal makan yang dia bawa karena biasanya tidak selalu bekal makan siangnya itu dimakan, seringkali ditawari kepada karyawan lainnya, atau aku, atau OB yang tidak bisa berkata tidak. Pak Wayan sering kali bosan dan memilih makan di luar bersama yang lainnya. Walau begitu, cukup diacungi jempol, Pak Wayan memiliki istri yang begitu peduli untuk memasak bekal makan siang suami dari pagi. Seberuntung aku ketika Ayah menyempatkan diri memasak di pagi buta.

Pak Wayan pindah duduk ke sebelah kubikelku agar acara makan kita tidak berjauhan. Kotak bewarna Merah itu sudah dari pagi kulihat nangkring di samping binder kerja Pak Wayan. Dari balik kubikel dapat kulihat ragam makanan yang ada di baliknya: nasi dengan lauk sayur ikan bumbu kuning dan dua potong tempe, sederhana saja, sama dengan kepunyaanku nasi goreng omelet sayur.

"Sepertinya kamu lebih menikmati bekal daripada makan di luar dengan yang lain ya?" tanya Pak Wayan di sela acara makan kami.

"Karena yang memasak, rasanya jadi spesial, Pak,"

Pak Wayan berpikir sejenak atas jawabanku, lalu tersenyum dan berkata, "Benar juga sih. Bisa saja saya bawa bekal ini keluar, tapi kalau cowok agak sungkan juga".

Atas jawaban Pak Wayan, aku jadi ingat kejadian sebelum sholat Jumat beberapa minggu lalu. Kaum lelaki seruangan pergi bersama makan keluar. Pak Wayan menawariku untuk mengambil bekal makan siangnya, setengah memaksa dia meletakkan kotak makan siang itu di mejaku dan berlalu terburu-buru untuk menyusul yang lainnya walau sudah kutolak dengan sopan dengan alasan sudah makan siang. Membuka tutupnya saja aku tidak tega apalagi mengaduk-aduk yang ada di dalamnya, membayangkan peluh istrinya yang bercucuran ketika memasak dari jam lima pagi, aku jadi tidak sanggup memakannya. Kuletakkan kembali kotak makan siang itu di samping monitor komputer, di meja Pak Wayan. Kejadian sepeti itu bukan pertama kali Pak Wayan lakukan. Keesokan harinya setelah kejadian itu, Pak Wayan telat datang ke kantor, hampir jam sebelas siang ketika kulihat dia menghidupkan komputernya. Pelipis pak Wayan lebam. Aku tidak sanggup walau cuma berpapasan dengan pak Wayan hari itu. Takut-takut kalau penyebab lebamnya itu adalah aku, aku yang sudah menolak memakan bekal makan siang pak Wayan, lalu dia dihardik istrinya lantaran itu.


Pukul empat seperempat rombongan sudah kembali lagi ke kantor. Beberapa membawa bungkusan makanan dari farewell party barusan. Ada yang sudah siap-siap akan pulang, ada yang sekadar duduk dan ngopi di pantri belakang, tidak ada yang serius melanjutkan pekerjaan kembali. Sebagian kaum wanitanya, tanpa aku dan Mbak Sekretaris, ngobrol santai di samping kubikelku. Mereka sedang membicarakan perihal bekal makan siang, “kalau bukan aku pasti soal Pak Wayan”, begitu pikirku dalam hati. Sedang Bergosip rupanya mereka. Karena teman wanitaku cuma satu-dua yang tidak pintar bergosip juga, aku selalu takjub dengan mereka dalam hal ini, kemampuan mencari dan menyebarkan informasi yang mereka miliki melebihi kemampuan detektif.

Mengenai ledekan tentang bekal makan siang, istrinya yang pemarah dan pelit, atau bajunya yang sering kali kusut, Pak Wayan selalu menanggapinya dengan santai dan tidak pernah tersinggung bahkan dijadikan bahan becandaan pelepas stres olehnya. Karena itu olokan soal Pak Wayan tidak pernah habis dipergunjingkan oleh rekan-rekannya.

"Kudengar dia habis bertengkar hebat setelah pelipisnya cedera kemarin itu, sepertinya mau cerai,"

"Seperti yang kemarin habis kita bahas itu, dua kali lho aku pergoki dia dengan Miss matching,"

Kurang jelas kutanggap, Pak Wayan atau Mbak Desita yang sedang mereka diskusikan. Ah, lagipula aku kan tidak diajak mereka diskusi, seharusnya aku tidak ikut penasaran.


Pukul empat tiga puluh semua orang sudah siap-siap akan pulang ke rumah, rupanya di luarcuaca buruk, langit kelam pertanda sebentar lagi akan hujan. Bagi yang tidak ingin terjebak hujan di kantor memanfaatkan momen ini supaya bisa diizinkan pulang lebih awal dengan atasan. Aku pulang agak malam. Setelah adzan Magrib hujan belum berhenti juga. Karena perut sudah lapar kembali kuputuskan untuk mampir dulu ke warteg belakang gedung yang letaknya bersebelahan dengan parkir motor. Indomie dan teh manis hangat nikmat betul di cuaca seperti ini.
  
Sudah beberapa motor lalu lalang menuju loket parkiran, motor-motor yang tidak sabaran menunggu gerimis habis untuk pulang. Aku jadi membayangkan Ayah, apa dia sudah sampai dan sudah makan di rumah?
  
Dari kejauhan aku seperti melihat sosok Pak Wayan, di samping motornya di parkiran, sedang mengeluarkan ponco hujannya. Aku ragu karena biasanya Pak Wayan pulang sendirian, tidak ditemani wanita berjaket dan masker hitam dan memiliki ponco yang sama bentuk dan warnanya dengan si lelaki yang kukira Pak Wayan itu. Loket parkiran tidak jauh dari tempat duduk makanku, bisa kupastikan ketika dia dan wanita tadi lewat sini nanti, apa benar itu pak Wayan yang tidak sendirian?
  
Motor sudah lewat, seharusnya aku lega ternyata benar pengendara motor Pulsar itu memang Pak Wayan, tetapi aku terpaku dengan wanita yang diboncenginya. Walau muka dan badannya tertutup ponco jelas sekali wanita bersepatu wedges tali hijau stabilo itu merangkul erat pinggang Pak Wayan. Dan yang paling jelas kulihat dari semuanya adalah cincin yang dikenakan wanita itu, emas putih berinisial 'A'. “Ah apa benar itu mereka?” Aku masih saja tercengang menebak-nebak kejadian barusan. “Jadi, benar yang dibicarakan teman-teman di ruangan tadi?” Sampai indomie di depanku sudah gendut-gendut bentuknya.


Tepat pukul tujuh aku kembali lagi ke lantai dua belas, mengambil flashdisk yang masih tercolok di komputer. Tepat sekali waktunya ketika ada dering telepon yang berbunyi. Asal bunyi itu dari balik meja Pak Wayan. Lama tidak ada yang mengangkat akhirnya suara telepon itu berhenti, tetapi berbunyi kembali ketika tepat saja ruangan akan kutinggal pergi. Ragu-ragu kuangkat, tapi sepertinya ini penting sekali sampai di telepon dua kali.

"Halo.."

"Halo!. Apa Adi ada di tempat?" Sahut suara diseberang sana yang agak terkejut.

"Adi? Pak Wayan? O, kebetulan dia sudah pulang Bu", kujawab dengan begitu spontan. "Ada pesan?"

"Ini istrinya Adi, tadi pagi saya sudah suruh orang antar kotak makan siangnya ke meja resepsionis. Awas saja dia makan di luar lagi!"

"Besok pagi akan saya sampaikan Bu. Mungkin sedang dijalan pulang"

"Oke, terima kasih," terdengar gebrakan telepon yang buru-buru, seburu-buru suara yang ada di seberangnya.
  
Baru kali ini aku dengar suara istri Pak Wayan langsung, telepon yang kuangkat barusan membuatku susah berpikir tentang hal yang baik-baik akan ketiga orang itu. Seharusnya aku memang lebih banyak berbaur dengan yang lain dan peka terhadap keadaan sekitar. Kupikir sikapku selama ini sudah cukup baik, tapi malah membuat dunia sepuluh langkah jauhnya ada di belakangku. Dunia yang ada di balik jurang sehingga pada sebuah nama saja harus kulihat melalui teropong. Nama panjang Pak Wayan, Adi Wayan Susno, tertulis diatas name tag disamping telepon yang barusan kuangkat.


Aku masih duduk di bangku kerjaku, masih saja mengingat-ingat kejadian di parkiran tadi. Soal sepatu hijau stabilo, soal cincin berinisial A, soal lebam pak Wayan, soal kotak makan siang. Aku masih saja menerka-nerka dengan ngeri dari mana muaranya hal seperti itu ada? Hal yang sebenarnya dekat dengan hidupku. Hal mengenai Ayah dan Ibu.

Aku jadi teringat lagi pesan ayah, "sesulit apa pun pilihannya jadi saja wanita baik."